BENTUK DISKRIMINASI YANG SERING DITEMUKAN DI MEDIA MASSA ONLINE
BENTUK DISKRIMINASI YANG SERING DITEMUKAN DI MEDIA MASSA ONLINE
(Klauidus Marsianus Juwandy)
Akhir-akhir ini kita sering melihat perkembangan media massa yang begitu meningkat.
Kehadiran media massa seakan membawa angin segar bagi setiap masyarakat yang sangat membutuhkan informasi secara cepat.
Berbagai bentuk media massa mulai dari media massa cetak sampai media Online (dalam jaringan) telah menjadi jembatan bagi kita untuk mengetahui segala bentuk perkembangan dalam segi kehidupan.
Seiring berjalannya waktu, salah satu media massa yang mengalami perubahan yang begitu signifikan adalah media massa Online.
Kehadiran media massa Online membantu kita untuk mengetahui suatu kejadian di tempat yang jauh dalam waktu singkat.
Jika kita sering berselancar di media sosial seperti Facebook, maka kita akan menemukan begitu banyak suguhan berita dari berbagai media mulai dari berita olah raga sampai pada berita yang berbau politik.
Bukankah ini menarik, dari pada kita sibuk scroll di baranda melihat postingan dengn caption tag di kau boleh? atau mengecek kronologi mantan yang pada akhirnya kita tidak bisa move on mending luangkan waktu untuk membaca tautan yang dibagikan. Ko co,on ta ase ka,e.
Ende-ema, ase- kae, pa,ang olo- ngaung musi, perkembangan media Online yang begitu pesat bukan saja membawa dampak positif bagi pembaca tetapi juga dampak negatif. Salah satu dampak negatif yang bisa kita lihat dalam media Online adalah bentu-bentuk diskriminasi.
Kata diskriminasi menurut KBBI (2001: 268) adalah bentuk pembedaan sikap dan perlakuan terhadap sesama warga negara (berdasarkan warna kulit, golongan, suku, ekonomi, agama, dsb).
Bapak-ibu/ saudara-saudari yang terkasih dalam nama Kristus Tuhan, hal seperti ini biasanya kita lihat di portal berita yang tugasnya hanya perburuan target klik dan ini disebabkan oleh kurangnya bahan yang ingin ditulis oleh jurnalis, pekerja media yang minim pengetahuan, keinginan melakukan pencitraan secara berlebihan, dan yang pada akhirnya mengabaikan aturan dasar jurnalistik dan aturan dasar berbahasa (sumber ranalino.id).
Ase agu kae, fenomena –fenomena seperti ini bukan saja merusak citra para jurunalis tetapi juga lunturnya kepercayaan masyarakat terhadap suatu media.
Hal semacam ini bisa saja memicu konflik horisontal dan pada akhrinya kita dibodohi oleh media.
Bei de wei any way basway, saya tulis ini karena sudah terlalu muak dengan berita yang sangat tidak masuk akal yang ditulis oleh jurnalis yang mungkin sudah kehabisan akal untuk meningkatkan ratting pembaca dan berikut ini adalah contoh portal berita yang saya temukan dan mengandung unsur diskriminasi. Mari kita simak
Kenali 6 ciri Wanita yang Sudah Tak Perawan
Ketika saya melihat judul artikel ini saya mau menangis memang e. Saya tidak tahu apa yang ada dalam otak penulisnya sehingga menulis hal yang sangat menyedihkan ini.
Jika memang penulisnya menulis dari sudut pandang Agama yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah memangnya salah satu indikator kesucian itu adalah perawan?
Aduh mori ampong, saya hanya ingin menitip pesan kepada penulis artikel ini, ingat saya bukan jenis orang tolol yang menganggap perawan itu penting dan mengukur kesucian seseorang hanya dari tubuhnya. #encok
Alasan di Balik Pria suka selingkuh
Sebelum saya lanjutkan, sebenarnya judul asli dari tulisan ini adalah “Alasan dibalik Pria suka selingkuh” dan kalian tahulah mengapa saya menggantinya.
Guys, jika dicermati secara mendalam berita ini sungguh sangat kejam. Berita ini seakan memosisikan laki-laki sebagai tukang selingkuh.
Ini wartawan menulis berdasarkan asumsi pribadi sehingga judulnya seperti ini atau mungkin dia punya pacar, tetapi pacarnya selingkuh dengan lelaki yang sudah ada pacar. Bingung kan? Saya juga bingung.
Tapi intinya begini jangan menilai sesuatu itu secara personal dan merambat ke hal yang universal. Bapak wartawan mungkin kraeng punya pengalaman yang membentuk pola pikir sehinggan menulis artikel ini. #Smile
Lima daerah di NTT yang banyak dihuni Wanita Cantik. Daerahmu termasuk Nggak?
Dari judulnya saja kita sudah bisa mengatakan bahwa artikel ini hanya mengejar klik tanpa memberi manfaat untuk pembaca.
Saya yakin jika kita membaca berita ini pasti kita akan sangat kasihan dengan wartawan dan gadis dari daerah-daerah yang tidak disebutkan. Ini bentuk diskriminasi dan rasisme yang sungguh terlalu.
Saya tidak tahu bagaimana penulis bisa menjelaskan dan mengelompok wanita yang cantik dan tidak cantik serta hubungannya dengan prestasi daerah.
Saya hanya takut nantinya dia berjodoh dengan gadis dari daerah yang tidak masuk kategori cantik oleh beliau.
Berarti dia sudah menikahi, ah sudahlah.
Saya mau berpesan kepada penulis, kalau kreang orang Ruteng yang notabene kota 1001 kandang babi, kami tidak akan butuh yang namanya cantik lagian cantik juga relatif yang terpenting bae keru elong agu teneng pakang. Itu!
Mungkin ketiga hal di atas bisa membantu kita untuk memahami bagaiman memilih bahan bacaan yang baik dan saya hanya berharap semoga kesalah ini segera dimusnahkan.
Kita tidak bisa lagi memaafkan orang yang berbuat salah karena itu akan melahirkan kesalahan yang baru.
Dan pada akhirnya saya meminta maaf jika ada yang tersinggung dan saya siap menerima kritikan pembaca semua dalam bentuk tulisan.
Salam
Ruteng, 2018
(Klauidus Marsianus Juwandy)
Akhir-akhir ini kita sering melihat perkembangan media massa yang begitu meningkat.
Kehadiran media massa seakan membawa angin segar bagi setiap masyarakat yang sangat membutuhkan informasi secara cepat.
Berbagai bentuk media massa mulai dari media massa cetak sampai media Online (dalam jaringan) telah menjadi jembatan bagi kita untuk mengetahui segala bentuk perkembangan dalam segi kehidupan.
Seiring berjalannya waktu, salah satu media massa yang mengalami perubahan yang begitu signifikan adalah media massa Online.
Kehadiran media massa Online membantu kita untuk mengetahui suatu kejadian di tempat yang jauh dalam waktu singkat.
Jika kita sering berselancar di media sosial seperti Facebook, maka kita akan menemukan begitu banyak suguhan berita dari berbagai media mulai dari berita olah raga sampai pada berita yang berbau politik.
Bukankah ini menarik, dari pada kita sibuk scroll di baranda melihat postingan dengn caption tag di kau boleh? atau mengecek kronologi mantan yang pada akhirnya kita tidak bisa move on mending luangkan waktu untuk membaca tautan yang dibagikan. Ko co,on ta ase ka,e.
Ende-ema, ase- kae, pa,ang olo- ngaung musi, perkembangan media Online yang begitu pesat bukan saja membawa dampak positif bagi pembaca tetapi juga dampak negatif. Salah satu dampak negatif yang bisa kita lihat dalam media Online adalah bentu-bentuk diskriminasi.
Kata diskriminasi menurut KBBI (2001: 268) adalah bentuk pembedaan sikap dan perlakuan terhadap sesama warga negara (berdasarkan warna kulit, golongan, suku, ekonomi, agama, dsb).
Bapak-ibu/ saudara-saudari yang terkasih dalam nama Kristus Tuhan, hal seperti ini biasanya kita lihat di portal berita yang tugasnya hanya perburuan target klik dan ini disebabkan oleh kurangnya bahan yang ingin ditulis oleh jurnalis, pekerja media yang minim pengetahuan, keinginan melakukan pencitraan secara berlebihan, dan yang pada akhirnya mengabaikan aturan dasar jurnalistik dan aturan dasar berbahasa (sumber ranalino.id).
Ase agu kae, fenomena –fenomena seperti ini bukan saja merusak citra para jurunalis tetapi juga lunturnya kepercayaan masyarakat terhadap suatu media.
Hal semacam ini bisa saja memicu konflik horisontal dan pada akhrinya kita dibodohi oleh media.
Bei de wei any way basway, saya tulis ini karena sudah terlalu muak dengan berita yang sangat tidak masuk akal yang ditulis oleh jurnalis yang mungkin sudah kehabisan akal untuk meningkatkan ratting pembaca dan berikut ini adalah contoh portal berita yang saya temukan dan mengandung unsur diskriminasi. Mari kita simak
Kenali 6 ciri Wanita yang Sudah Tak Perawan
Ketika saya melihat judul artikel ini saya mau menangis memang e. Saya tidak tahu apa yang ada dalam otak penulisnya sehingga menulis hal yang sangat menyedihkan ini.
Jika memang penulisnya menulis dari sudut pandang Agama yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah memangnya salah satu indikator kesucian itu adalah perawan?
Aduh mori ampong, saya hanya ingin menitip pesan kepada penulis artikel ini, ingat saya bukan jenis orang tolol yang menganggap perawan itu penting dan mengukur kesucian seseorang hanya dari tubuhnya. #encok
Alasan di Balik Pria suka selingkuh
Sebelum saya lanjutkan, sebenarnya judul asli dari tulisan ini adalah “Alasan dibalik Pria suka selingkuh” dan kalian tahulah mengapa saya menggantinya.
Guys, jika dicermati secara mendalam berita ini sungguh sangat kejam. Berita ini seakan memosisikan laki-laki sebagai tukang selingkuh.
Ini wartawan menulis berdasarkan asumsi pribadi sehingga judulnya seperti ini atau mungkin dia punya pacar, tetapi pacarnya selingkuh dengan lelaki yang sudah ada pacar. Bingung kan? Saya juga bingung.
Tapi intinya begini jangan menilai sesuatu itu secara personal dan merambat ke hal yang universal. Bapak wartawan mungkin kraeng punya pengalaman yang membentuk pola pikir sehinggan menulis artikel ini. #Smile
Lima daerah di NTT yang banyak dihuni Wanita Cantik. Daerahmu termasuk Nggak?
Dari judulnya saja kita sudah bisa mengatakan bahwa artikel ini hanya mengejar klik tanpa memberi manfaat untuk pembaca.
Saya yakin jika kita membaca berita ini pasti kita akan sangat kasihan dengan wartawan dan gadis dari daerah-daerah yang tidak disebutkan. Ini bentuk diskriminasi dan rasisme yang sungguh terlalu.
Saya tidak tahu bagaimana penulis bisa menjelaskan dan mengelompok wanita yang cantik dan tidak cantik serta hubungannya dengan prestasi daerah.
Saya hanya takut nantinya dia berjodoh dengan gadis dari daerah yang tidak masuk kategori cantik oleh beliau.
Berarti dia sudah menikahi, ah sudahlah.
Saya mau berpesan kepada penulis, kalau kreang orang Ruteng yang notabene kota 1001 kandang babi, kami tidak akan butuh yang namanya cantik lagian cantik juga relatif yang terpenting bae keru elong agu teneng pakang. Itu!
Mungkin ketiga hal di atas bisa membantu kita untuk memahami bagaiman memilih bahan bacaan yang baik dan saya hanya berharap semoga kesalah ini segera dimusnahkan.
Kita tidak bisa lagi memaafkan orang yang berbuat salah karena itu akan melahirkan kesalahan yang baru.
Dan pada akhirnya saya meminta maaf jika ada yang tersinggung dan saya siap menerima kritikan pembaca semua dalam bentuk tulisan.
Salam
Ruteng, 2018

Komentar
Posting Komentar