Postingan

Menampilkan postingan dengan label ruteng

Sajak Ibu: Kumpulan Puisi Rista Damu

Gambar
Maukah kau mengingatnya? (Rista Damu) Rista Damu* Udo...yang disapa manis Kau pernah melempar kata "Namaku adalah sutra senja" Aku dengan lengkung bibir yang melahirkan tawa kecil. Disini aku merajut asa bersama hari ini Berdoa Bapa Kami untuk kau kembali Mungkin kau tak mengingatku Tapi aku ada disini. Udo... Maukah kau mengingatnya? Teringat senja kemarin Aku menatapmu dari sini Berharap rinduku kau tempati Sebab, aku menenun senyummu disini. Udo... Sosokmu telah mengutuk perasaan yang memaksaku untuk jujur tentang cinta Sampai aku terjerat dalam kekosongan Maukah kau mengingatnya? Aku dan cintaku seperti dalam kesalahan Terdiam dalam kesunyian Menatap waktu yang enggan berbicara Kini aku terkapar dalam hamparan tempat tidurku Jiwaku yang kau buat bisu itu. Udo.. Maukah kau mengingatnya? Ruteng, Mei 2019 Sajak Ibu (Rista Damu) Saat ini,aku bernyanyi di panggung sandiwara Lewat mahkota tulus saat engkau mengusap keringat cinta Sempurna...

Balasan Ayuni

Gambar
Balasan Ayuni (Klaudius Marsianus Juwandy)* Bukan Ayuni tapi siswa SMA Familia Lembor Wandy yang baik Surat-surat yang engkau kirim sudah kuterima, ku kira semuanya telah ku baca dan sangat menarik untuk dijadikan dongeng sebelum tidur. Telah kuterima juga sepasang mata yang engkau berikan kepadaku. Masih berdarah dan segar. Kadang ketika malam aku sengaja menempatkannya di dalam lemari agar matamu itu tak sibuk memata-mataiku. Wandi apakah kamu tahu, mata yang engkau kirimkan itu telah membawa cinta yang sesungguhnya  pada kehidupanku. Surat yang engaku krimkan telah menjadi kado pernikahanku yang diberikan oleh suamiku. Rupa-rupanya engkau telah salah memilih teman. Temanmu yang engkau tugasi unttuk membawakan surat untukku ternyata menyimpan perasaan cinta kepadaku. Semua suratmu tak pernah ia berikan. Ia sembunyikan di alam yang tak bisa engkau jangkau. Aku yakin kamu selalu berharap aku akan membalas suratmu itu. Wandi hidup tak seperti keyakinanmu yang dangkal itu...

AYUNI DAN JERITAN MALAM

Gambar
AYUNI DAN JERITAN MALAM (Klaudius Marsianus Juwandy) Kutuliskan cerita ini di sebuah kota kecil dimana kopi tak bisa cerai dari kehidupan masyarakat.  Cerita yang sebenarnya tak ada yang pernah tahu. Kisah seorang kekasih di masa lalu yang di tinggal pergi oleh kekasihnya. Telah bertahun-tahun lamanya cerita ini hanya sebagai dongeng pengantar tidur anak-anak tak kala mata mereka masih melek hingga tengah malam. Maka masyarakat memanai gadis itu sebagai gadis malang. Barangkali tak ada yang lebih menyedihkan dari gadis itu. Sampai saat dia menghembuskan napas terakhir, cintanya pada kekasih masih abadi, seperti peluru yang tersarang di kepala kekasihnya. Baca juga: Teka-teki Silang untuk Tania Kutuliskan cerita ini di sebuah kota kecil di malam hari, di depan gerbang gereja sebagai tanda awal sejarah Kristen di tempat ini.  Cerita tentang seorang gadis yang mencari kekasihnya yang dikabarkan mati karena kepalanya di tembak. Namun tak ada seorang pendidik yan...

TEKA-TEKI SILANG UNTUK TANIA

Gambar
TEKA-TEKI SILANG UNTUK TANIA (Klaudius Marsianus Juwandy)*  Kesedihan masih menyelimuti Tania saat dirinya ditinggal pergi oleh Fari. Hari-harinya hanya dilalui dengan air mata ketika kenangan manis mereka berdua mengganggunya. Para sahabat  datang dan pergi untuk menghiburnya tapi pulang dengan kepala menunduk. “bagaimana keadaannya” tanya ibu Tania. Soni hanya mengggeleng karena belum bisa membujuk Tania. Ibu Tania hanya bisa berdoa melihat kondisi anaknya yang telah menyendiri sejak kematian Fari pacaranya. Sudah hampir 3 tahun mereka pacaran dan kedua orang tua mereka pun sangat merestui hubungan mereka. “Tania, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu” kata ibu Tania. Tak ada kata yang keluar dari mulut Tania, melihat hal itu ibunya pun pergi. Beberapa saat kemudian seorang anak kecil masuk dan mendekati Tania. “Semua bisa berkata apa saja yang mereka suka dan yang mereka mau, terkecuali aku! Aku hanya terpuruk dalam masa depan suram ku, dan masa lalu ku yang...

NAPAS KANFAS ANDREAS VII

Gambar
NAPAS KANFAS ANDREAS VII (Klaudius Marsianus Juwandy)* bukan Andreas Sudah hampir satu dua tahun Andreas tidak menyentuh peralatan lukis sejak kematian ayahnya. Hari-harinya hanya sibuk menatap lukisan yan dibuat Maksimus. Banyak orang datang ke rumahnya untuk meminta agar membuatkan lukisan, namun tak satu pun yang bertahan dengan sikap Andreas dan pulang dengan tangan hampa. Dia kembali memutuskan untuk tak berbicara dan tak melukis karena orang-orang dicintainya pergi meningalkannya, baginya melukis adalah kenangan hingga ajal menjemputnya .  Hanya Soni yang bertahan dengan keegoisannya Adreas. Setiap hari dia setia meracik kopi untuk Andreas, karena hanya itu teman yang dia butuhkan kala melewati senja bersama lukisan ayahnya dan Elisabet. Hingga suatu hari, Andreas jatuh sakit karena daya tahan tubuhnya sangat lemah. Hampir puluhan dokter Soni datangkan untuk menyembuhkan Andreas namun sayang yang soni dapati hanya kata-kata pasrah dari mereka. Bahkan, seoran ka...

NAPAS KANFAS ANDREAS V

Gambar
NAPAS KANFAS ANDREAS V Klaudius Marsianus Juwandy* mengapa kamu tiba-tiba gelisah” tanya Andreas “tidak, aku hanya mau memastikan apakah tukang pos itu sudah pergi” kata Elisabet sambil melihat di sekeliling rumah, seperti ada seseorang yang sedang dia nantikan. Pagi itu hujan, tak seperti biasanya hujan begitu dingin dan deras.  Andreas yang kepalanya penuh dengan kejenuhan tak menghiraukan kegelisahan Elisabet. Pagi itu, seorang tukan pos mengantarkan sebuah surat untuk Elisabet, entah mengapa saat membaca surat itu, Elisabet tiba-tiba merindu dan merasa gelisah. Hujan makin deras, Andreas merapatkan jeketnya dan dalam sekejap aroma kopi memenuhi rumah itu. “kopi adalah suguhan yang indah unntuk mengusir  dingin” kata Andreas Elisabet hanya tersenyum, tatanan senyum yang indah di pagi itu membangkitkan gairah Adam pada diri Andreas. Diletakannya gelas kopi itu dan memeluk Elisabet erat. Rintik-rintik itu seperti sebuah alunan nada saat dengan keperkasaan An...