LILI
LILI*
(Klaudius Marsianus Juwandy)*
Apalah arti memiliki kettika kita harus kehilangan orang
yang laing dicintai, apalah arti sahabat ketika kita jatuh dalam kubangan
lantas mereka tertawa. Bukankah itu hal yang paling anjing untuk sebongkah
daging polos. Tuhan jika memang engkau tak bisa menyelesaikan masalahku,
biarkan aku yang kotor ini menjaga kain putih itu agar tetap putih.
Dan aku pun kembali melihat hal-hal yang menyakitkan
dalam hidupku, Tuhan dan iblis yang tak henti-hentinya berperang dalam hati dan
aku atau mungkin kita berada di tengahnya. Kadang aku berpikir sebegitu
mahalkah diri kita hingga para penguasa selalu bertarung hanya memperebutkan
kita. pernahkah kita sejenak meluangkan waktu, duduk di teras loteng,
memandangi bintang yang jatuh dan bertanya siapakah yang paling kuat diantara
para penguasa itu. Tak akan ada habisnya kata untuk menjelasakan rivalitas
mereka yang kita ciptakan.
Dalam keheningan, aku pun menemukan sesuatu yang
menyakitkan dari keduanya. Bukankah mereka selalu menggoda kita dengan hal yang
tak pernah kita duga. Ya, mereka hanya menawarakan cinta namun dengan racikan
yang berebeda. Tuhan sang kesatria menyuguhkan cinta yang mulia namun harus
melewati jalan yang menyakitkan dan kadang
kita pun tak sempat menikmati keindahan cinta.
Dan musuhnya, setan sang panglima perang menawarakan
cinta dengan racikan kemewahan, tak ada jalan berliku baginya, hanya ada kata
indah dan kesenangan. Dan aku atau kita harus memilih salah satunya, memilih
Tuhan atau setan.
Hal ini yang kualami beberapa masa silam, ketika aku tak
sengaja mencari cinta melalu jalan Tuhan. Aku tahu dia tersenyum dengan
pilihanku dan aku sangat yakin dengan jalan yang kupilih itu.
Dan pada perjalananku mencari cinta, aku telah menemukan cinta itu pada seorang gadis
lugu berwajah ayu. Namanya Isna, gadis itu sangat cantik, bahkan kecantikannya
mampu membunuh diriku hanya dengan sekali senyum. Aku tak tahu seperti apa
reuknya diriku ketika dia tawarkan seribu senyum yang teduh untukku.
Kami sering berpapasan setiap pagi ketika dengan
kecantikanya berjalan dan menggendong keranjang yang berisi bekal untuk makan
siangnya di kebun. Dan itulah
penamipilan paling cantiknya yang pernah kulihat. Melihatnya seperti itu
membuatku merasakan indahnya surga. Dialah gadis yang sering kuceritakan pada
Tuhan ketika malam hari bersama bintang dan rembulan yang saling menunjuk
kemesraan.
Pagi menggulung malam, malam menyembunyikan pagi, bintang
pun perlahan jatun dan waktu terus berjalan. Cinta yang telah kutanam pada hati
gadis itu telah tumbuh dan mekar dengan wangki khasnya. Aku yakin meski makan
waktu tapi benih itu telah jatuh di tanah yang subur. Kadang aku marah pada
senja yang membiarkan malam mengukulnya dan kami kembali harus berpisah
menunggu esok.
Rindu itu kian hadir bersama cinta yang semakin
menjadi-jadi. Rupanya Tuhan sudah mulai melakukan tugasnya, seperti syarat yang
diberikan-Nya harus melewati semak belukar dan itulah yang kami rasakan. Cinta
itu tumbuh bersama masalah-masalah yang tak tahu datangnya dari mana. Kadang
hanya saat senja itu kami tak bisa berjalan bersama atau aku yang dengan
kegelisahanku tak sempat membawa parang untuk menebas rumput di kebun. Inilah
hal paling bodoh yang dilakukan oleh seorang petani sepertiku.
Tapi semua cerita itu sepertinya harus berakhir ketika
lagi-lagi dia yang katanya memiliki rumah di balik awan kembali menguji kami.
Aku marah, sangat marah padanya. Kali ini candaannya tak lagi lucu. Kisah yang
kami rajut bersama harus terputus ketika dia gadis lugu nan ayu itu memutuskan
hubungan kami.
Pergi dan berharap dia pergi sejauh mungkin tapi sayang
dia hanya beranjak dari sisiku dan berada di dekatku.
Anjing, paling anjing yang pernah kualami. Bahkan aku
yang tak pernah takut pada hewan buas harus takluk dengan senyumamnya. Saat itu,
ketika aku duduk di sebuah pendopo depan rumah, ibuku menyuruhku untuk segera
masuk. Katanya sangat penting. Tak seperti biasanya ibu seperti ini, aku hanya
menurut dan semoga ini berita gembira yang ku dapat setelah harus bertarung melawan
rumput yang kian bandel di kebun.
“saya sengaja memanggil kalian, saya ingin agar semua
urusan kakakmu segera selesai, sehingga kita tidak perlu lagi sibuk dengan
adat-adat yang kadang- kadang membelit keluarga kita. besok kamu tidak usah ke
kebun. Panggil semua keluarga kita untuk berkumpul di rumah besok malam” kata
ibu kepadaku
“memangnya besok ada acara apa bu” tanyakku polos
“ini kakakmu yang baru pulang dari Kalimantan, katanya
ingin segera mengurus perkawinannya dengan gadis di kampug sebelah. Teryanta
selama merantau, kakakmu ini sering mengirim kabar dengan Isna. Sehingga
secepatnya kita bisa urus acara masuk minta dan segera menikah” jawabnya sambil
memakan sirih pinang
Kata-kata itu sangat menyakitkan di telinga, bahkan yang
lebih menyakitkan ketika kata itu justru ku dengar dari orang lain bukan dari
gadis yang paling kucintai.
Hari-hari berlalu tanpa menawarkan sebuah perjanjian,
burung-burung pun seperti nyaman bermain bersama angin dan pohon itu telah
jatuh hati kepada tanah yang telah memberikannya kehidupan.
Hingga pada saat Isna menikah, aku, dia atau kami tak
pernah berpapasan. Terkadang ketika malam saat memandang langit dan sesekali
memandang bintang jatuh, rindu seperti perlahan merangkak masuk dalam kalbuku
dan kembali aku tak bisa meneteskan air mata ketika mengenang kenangan indah
kami.
Aku yakin tuhan pasti tertawa melihatku sekarang dan
mungkin setan sedang marah-marah kepadaku ketika aku tak memilih jalannya untuk
mencari cinta.
Hingga pada pada sebuah masa, ketika kabar duka hadir
tengah keluarga kami. Saat bunga cinta keluarga kecil Isna dan kakakku sedang
mekar-mekarnya justru batu besar jatuh dan mengenai bunga itu. Kakakku yang
pergi merantau telah dikabarkan meninggal karena kedapatan razia dari polisi
negara sebelah. Dia yang menjadi pekerja gelap akhirnya harus ditembak setelah
coba untuk melarikan diri. Semua keluarga kami berduka, Isna berduka dan aku
pun berduka. Isna yang saat itu telah mengandung tak kuasa menahan air mata dan
mengusap perut yang tak memiliki ayah itu.
Hari demi hari telah berlalu, siang dan malam datang dan
pergi, senja hanya meninggalkan kenangan manis bersama secangkir kopi dan Isna
gadis yang laing cantik kini ssemakin cantik ketika buah dadanya menawarkan
suatu keindahan pada kandungan yang kian membesar.
“nana, setelah
ibu berdisusi dengan keluarga kita, ibu pun ingin menyampaikan sesuatu
kepadamu. Ibu tak tega melihat Isna yang masih sangat kecil harus rela menjadi
janda untuk kehidupan selanjutnya. Ibu ingin engkau mau menjadi suaminya.
Rawatlah anaknya dan cintai dia sebagai gadis yang kau cintai” kata ibu memohon
kepadaku
Ku lihat di pojokan rumah, Isna duduk tak memandangku.
Rambutnya yang jatuh berderai di ujung dagu semakin membuatnya indah di mataku
“ bu, aku ingin bertanya dulu kepada Isna, apakah dia mau
menikah denganku. Sebab aku tak ingin mencintai gadis yang tak mencintaiku.
Jika dia mau menikah denganku, akupun sangat setuju” kataku pelan. Ku lihat ibu
yang menanyai Isna tentang niatnya akhirnya diterima baik oleh Isna.
Segala kegiatan adat-istiadat pun dilakukan, dan segera
mengurus pernikahanku dengan Isna.
Malam itu pun kahirnya muncul, bersama bintang yang jatuh anakku, anak
kakakku dan anak Isna mengeluarkan suara untuk pertama kalinya. Raut wajah
bahagia memenuhi keluarga kami. Aku pun segera menemui Isna dan anakku, aku
menggendongnya, wajahnya begitu menggemasakan. Ku lihat di pembaringan Isna
begitu kelelahan seperti telah melakukan pertarung hidup mati yang begitu
sengit.
Kini anak kami telah berumur tiga tahun, ku beri nama
padanya Kris. Aku sangat mencintainya. Kadang ketika senja di tak sengaja
terlelap dalam dekapanku. Ku nyanyikan lagu sendu agar mimpinya kian indah.
Ku lihat dari pendopo Isna memandang kami dari balik
jendela, aku pun menemuinya dan embaringkan Kris di tempat tidur.
“kenapa engkau begitu murung” tanyaku
“aku malu padamu, aku merasa bersalah untuk semua kisah
kita yang pernah kita jalani, aku mungkin telah merebut kebahagiaanmu” katanya
sendu
“sudah, tak usah engkau merasa bersalah, bagiku kamu
tetap cantik karena cinta telah mengajarkanku cara memandangmu dengan dewasa.
Mulai sekarang kita tak usah memikirkan masa lalu dan tataplah masa depan kita,
anak kita. aku sangat mencintaimu sebagai gadis yang lugu seperti saat engkau
masih gadis dulu”
Saat itu pun Isna menangis, ku dekap dirinya dan coba
memberikan kehangatan padanya. Kadang ketika malam saat aku berbincang dengan
Tuhan tak jarang kami menyebut nama Isna. Atau mengolong dan memarahi Tuhan
karena jalan cintanya yang sanagat menguji diriku. Tap aku yakin sebenarnya
bukan tuhan dalam hatiku tapi aku yang ada dalam hatinya ketika cinta
berbicara. Dan ini adalah takdirku, aku adalah pemegang takdirku sendiri.
Bukankah begitu hakikat cint dan kehidupan
Taga,28 September 2017
*lili: sebuah budaya pernikahan di manggarai yang
menikahi istri/ suami dari kakak/ adki yang telah meninggal dunia
*penulis adalah mahasiswa STKIP Santu Paulus Ruteng dan
mengambil Jurusan Pendidikan Bahasan dan Sastra Indonesia
Komentar
Posting Komentar