Postingan

Menampilkan postingan dengan label blogger Rutengpenikmat kopi

TEKA-TEKI SILANG UNTUK TANIA

Gambar
TEKA-TEKI SILANG UNTUK TANIA (Klaudius Marsianus Juwandy)*  Kesedihan masih menyelimuti Tania saat dirinya ditinggal pergi oleh Fari. Hari-harinya hanya dilalui dengan air mata ketika kenangan manis mereka berdua mengganggunya. Para sahabat  datang dan pergi untuk menghiburnya tapi pulang dengan kepala menunduk. “bagaimana keadaannya” tanya ibu Tania. Soni hanya mengggeleng karena belum bisa membujuk Tania. Ibu Tania hanya bisa berdoa melihat kondisi anaknya yang telah menyendiri sejak kematian Fari pacaranya. Sudah hampir 3 tahun mereka pacaran dan kedua orang tua mereka pun sangat merestui hubungan mereka. “Tania, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu” kata ibu Tania. Tak ada kata yang keluar dari mulut Tania, melihat hal itu ibunya pun pergi. Beberapa saat kemudian seorang anak kecil masuk dan mendekati Tania. “Semua bisa berkata apa saja yang mereka suka dan yang mereka mau, terkecuali aku! Aku hanya terpuruk dalam masa depan suram ku, dan masa lalu ku yang...

PAMFLET CINTA

Gambar
PAMFLET CINTA *KLAUDIUS MARSIANUS JUWANDY Aku tak tahu bahasa apa yang indah untuk menyapamu hari ini. kata sayang sepertinya tak layak lagi dan engkau tak menyukainya apa lagi yang menggunakannya adalah aku. Maaf, sekali lagi maaf jika hari ini surat ku ini menyibukan dirimu dan menyita waktumu untuk menghitung rumus jarak matahari dan rembulan hanya lantaran menerima kiriman ini dariku. Sengaja ku kirimkan surat in untukmu yang kubungkus bersama darah dan cankir kopimu yang engkau tingalkan di mejaku saat kita masih duduk bersama suatu sore sambil menikmati senja yang kian di gulung malam. aku tahu pasti kamu bingung mengapa harus ku kirimkan kembali cangkir dan darah. Lihatlah, ada hal yang indah pada cangkir kopi yang engkau tinggalkan ini. aku tak tahu rasa apa ini, tetapi yang jelas dia selalu menarik diriku pada sebuah bayangan. Aku tak akan pernah sanggup, ini curang. Bahkan dalam tidurku dia masih saja mengejarku. Aku tak tahu apa makna di balik cangkir bersama...

KOPI DAN PAHIT

KOPI DAN PAHIT (Klaudius Masianus Juwandy)* Suara ge mercik hujan menggoyahkan lamunanku. Seketika ingatan itu terbuang dengan sendirinya. Bukan tanpa sebab, tapi kali ini tubuhku memilih diam. Di depanku dua manusia sedang tertawa bahagia. Aku tahu, mereka pasti mengira dunia ini milik berdua. Bukankah begitu yang namanya cinta? “ Pa, kopi susunya dua ” kata kedua pasangan itu tanpa mempedulikan yang lain “sabar ya, kalau kamu Fan pesan kopi apa?” jawab pa Soni sang pemilik kedai kopi sambil mendekatiku “seperti biasa om” jawabku singkat. Dari sudut kedai, pa Soni masih menatap Irfan dengan penuh kesedihan. “dasar anak muda, begitu rapuh hatinya terhadap sebuah cinta” guman pa Soni dalam hati dan mempercepat langkahnya untuk mengantarkan kopi pesanan pelanggan “ Secangkir kopi pertama di pagi hari, tak lagi panas seperti biasanya. Menjadi hangat seperti kamu ketika tahu bahwa ada sosok yang menyukaimu. Bagi sang waktu, merubah sikap seseorang terasa begitu mudah...